Sabtu, 13 Februari 2010

Makna Valentine day


Tanggal 14 Februari adalah hari yang dinanti-nantikan oleh para
kawula muda di seluruh dunia. Pada hari itu, para remaja biasanya
merayakan Hari Valentine, suatu hari di mana digunakan sebagai momen
penting untuk menumpahkah kasih sayangnya kepada orang yang dicintai.
Ada bunga, kado, sampai pesta mewarnai perayaan hari itu. Tidak heran
bila Hari Valentine ditunggu-tunggu orang, khususnya kaum muda,
sepanjang tahun.


Perayaan Hari Valentine juga identik dengan kartu, gambar hati, warna
merah muda dan Cupid (malaikat kecil bersayap yang selalu membawa
panah asmaranya ke mana-mana). Dia sering dipakai untuk lambang cinta
di hari kasih sayang. Hal itu karena menurut mitologi Romawi, Cupid
adalah anak laki-laki Dewa Venus, dewa cinta dan kecantikan. Mungkin
kita banyak yang tidak mengetahui asal-usul dan latar belakang
perayaan Hari Valentine. Kapan sebenarnya perayaan ini dimulai?
Asal-usulnya? Apa sesungguhnya yang dikabarkan Valentine buat kita?
Kalaupun kita terlibat dalam perayaan setidaknya kita bukan hanya
sebagai penggembira yang tidak memahami makna Valentine.

Selama ini, orang mengenal Valentine sebagai suatu budaya yang lahir
dari Roma dan secara perlahan-lahan menjadi budaya milik dunia, tak
terkecuali Indonesia. Awalnya pada 15 Februari sekitar abad ke-4 SM
diadakan festival bangsa Roma yang disebut Lupercalis untuk memuja
Dewa Lupercus, dewa pelindung tanaman obat dan hasil bumi. Pada malam
sebelum festival, para pemuda Roma akan mencari pasangan mereka selama
festival hingga pesta Lupercalia berikutnya. Mereka saling bertukar
hadiah. Para wanita akan menerima sarung tangan harum atau perhiasan
mahal. Tidak jarang mereka berhubungan asmara hingga satu tahun, jatuh
cinta dan akhirnya menikah. Setelah berlangsung selama 800 tahun,
gereja di Roma menentang perayaan tersebut, dan belakangan uskup dari
Interamna yang bernama Valentine memulai kembali kebiasaan tersebut
dengan cara yang berbeda.

Setelah Roma dikristenkan, para rohaniwan menggeser sehari ke
belakang, dari yang sebelumnya 15 Februari menjadi 14 Februari sebagai
hari kasih sayang, Hari Valentine. Hal ini dimaksudkan sebagai tanda
untuk memperingati dua orang martir. Nama Valentino yang pertama
dihukum mati oleh Kaisar Claudius II pada 14 Februari 270 M. Sang
Kaisar menganggap bahwa bala tentaranya akan makin besar dan kuat jika
mereka tidak menikah, sehingga melarang pria untuk menikah dan tinggal
bersama keluarga. Seluruh pertunangan dan perkawinan di seluruh Romawi
dibatalkan demi memperkuat militernya.

Saat itu, Uskup Valentine (seorang pastor) bersama dengan Uskup Marius
dan para martir Kristiani lainnya menikahkan pasangan Romawi secara
sembunyi-sembunyi. Ketika ketahuan, Uskup Valentine ditangkap dan
dipenjarakan (lihat boks). Akhirnya ia dihukum, dipukuli dengan
tongkat, dilempari batu, dan dipenggal kepalanya hingga tewas.

Hukuman ini terjadi pada 14 Februari 270 M ketika orang-orang Romawi
mempersiapkan festival Lupercalia, yang jatuh pada 15 Februari. Untuk
mengenang jasa dan pengorbanan Uskup Valentine serta menghormati
tradisi rakyat, maka para pastor Romawi menentukan tanggal 14 Februari
sebagai Hari Valentine. Sedangkan Valentino yang kedua adalah seorang
bishop dari Interamna (Terni modern). Dua martir ini lalu diberi gelar
santo karena pengorbanannya --santo pelindung bagi pasangan yang
sedang jatuh cinta. Hingga pada 469 M, Paus Gelasius mengumumkan
setiap tahun pada 14 Februari sebagai Hari Valentine.


Kisah Asmara Valentine


Pada bulan musim semi, burung-burung mulai mencari pasangan dan Dewa
Cupido, dewa berbentuk anak kecil bersayap, mulai mengarahkan anak
panahnya pada hati muda-mudi.

Sebelum Valentine ditangkap, ia suka memberikan bunga di tamannya pada
anak-anak. Saat ia berada di dalam penjara, berbondong-bondong
anak-anak mengunjunginya, melempar sejumlah besar bunga segar ke ruang
tahanannya. Selama dalam kurungan itu pula, ia berhasil menyembuhkan
mata seorang gadis buta, anak penjaga menara, berkat imannya yang
teguh dan kasihnya yang besar. Valentine jatuh cinta lalu secara
kontinyu menulis surat cinta pada sang gadis. Sebelum ia menghadapi
saat terakhirnya, sepucuk surat terakhir yang ditandatanganinya, ia
tuliskan sebuah kalimat "From Your Valentine" kepada gadis itu. Sebuah
ekspresi kasih sayang yang hingga sekarang digunakan banyak orang.
Setelah Valentine meninggal, di atas makamnya, tumbuh sebatang pohon
ginko warna pink yang berdaun lebat, melambangkan cinta yang abadi.

Kalimat inilah yang menjadi ungkapan yang sering dipakai untuk
mengungkapkan kasih sayang atau cinta pada seseorang di Hari
Valentine. Kebiasaan mengirimkan kartu Valentine sekarang ini
sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Uskup Valentine atau pesta
Lupercalia. Konon kartu Valentine ini adalah kartu yang pertama keluar
untuk jenis kartu ucapan. Pada saat itu orang belum mengenal jenis
kartu ucapan yang lainnya. Saat pesta Lupercalia mulai ditinggalkan,
para pemuda Romawi tetap menggunakan kebiasaan ini untuk mengajak
kencan gadis idamannya dengan memberikan kartu tulisan tangan di
tanggal 14 Februari. Tapi kartu Valentine yang sebenarnya pertama kali
dikirim oleh Charles, seorang bangsawan dari Orleans, di tahun 1415
untuk istri tercintanya. Saat itu Charles sedang dipenjara di Tower of
London yang sekarang sudah menjadi museum. Dari sanalah kemudian
kebiasaan mengirim kartu itu terus berkembang sampai sekarang.

Kisah Valentine merupakan tragedi yang berhubungan antara hidup dan
mati. Kisah kasih sejati yang bisa terekspresi oleh siapa pun.
Setragis kisah Valentine, kisah tentang sebuah tindakan yang
menggemparkan seluruh penjuru yang dilakukan oleh Zhen Xueli, seorang
istri terpidana mati. Setelah divonis mati karena kesilapan membunuh
orang, ia memohon pengadilan sipil tingkat dua setempat untuk memiliki
anak dari sang suami dengan cara inseminasi buatan sebagai sebuah
bukti cintanya, dan sekaligus agar dapat menghibur kepedihan sang
mertua. Namun, harapannya akhirnya putus di tengah jalan. Tepat pada
18 Januari, untuk selama-lamanya Zheng Xueli kehilangan orang yang
dicintainya. Orang yang dicintainya itu telah melakukan hal yang tidak
seharusnya dilakukan, dan untuk selama-lamanya dengan terpaksa
meninggalkan kekasih dan keluarganya.

Mungkin ketika para pasangan sekarang sibuk membeli bunga dan cokelat,
tanpa mengetahui makna Hari Valentine dan nilai-nilai di balik sejarah
Valentine. Tidak mengherankan, apabila di zaman yang dimabukkan oleh
dekadensi moral yang mengkhawatirkan, sejarah telah dilupakan hingga
pelita hancur seiring dengan renungan dan perasaan di dalam
sanubarinya. Valentine membuat Hari Valentine, memberi tahu pada kita,
bahwa cinta adalah suatu perasaan yang murni dan berharga. Sebuah hari
besar dan makna cinta yang dikandungnya didapat dari seseorang yang
mengorbankan jiwanya untuk kita.

Di zaman sekarang ketika Hari Valentine telah sepenuhnya menjadi
perdagangan, hingga sejumlah besar orang Amerika tidak mengetahui di
balik kepedihan Hari Valentine. Jadilah 'From Your Valentine' bisa
sesukanya diucapkan, dan telah dianggap sebagai suatu mode. Seperti
halnya di China sekarang, ada sejumlah besar orang, bagaimana secara
kreatif memanfaatkan Hari Valentine, bermain dengan apa yang disebut
permainan percintaan, memainkan acara sebagai orang ketiga dengan
riang gembira, Hari Valentine berubah menjadi hari besar kekasih di
luar istri. Ada berita mengatakan, bahwa sekitar 30% orang yang
berkunjung ke Hongkong, pada saat Hari Valentine merasa menyesal
karena tidak dapat mendampingi beberapa kekasih secara bersamaan. Di
RRC, mungkin juga mempunyai jumlah yang sama atau mungkin lebih banyak
lagi orang merasakan kerisauan yang sama, tanpa mengetahui bagaimana
perasaan Valentine di atas sana jika mengetahuinya.

Tanpa mempermasalahkan asal-usul Hari Valentine, terkandung makna yang
diakui banyak orang, baik yang merayakan atau tidak, bahwa cinta dan
kasih sayang patut kita pupuk sepanjang masa. Cinta adalah perasaan
jiwa dan gejolak hati yang mendorong kehidupan lebih bergairah dan
harmonis. Ada yang sedang romantis mempersembahkan bunga, ada yang
saling mempercayakan seumur hidupnya, ada yang berjanji dengan
setulusnya, dan ada juga yang diam-diam sendirian meneteskan air mata.
Ada yang berkorban demi cinta sejati, ada juga yang mempermainkan
cinta. Sementara ginko pink di atas makam Valentine mekar sendiri,
demi perasaan cinta yang sejati dan murni manusia sebagai dasar
persembahan cinta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar